Jawaban UTS KLB

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS TRUNOJOYO
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA (FISIB)
PRODI ILMU KOMUNIKASI
Jl. Raya Telang, Kamal, Bangkalan, Madura 69162


UJIAN TENGAH SEMESTER
    Tahun Akademik 2012/2013


Mata Kuliah          : Komunikasi Lintas Budaya (C)
Mahasiswa             : Badrus Sholeh (100531100052)
Hari/Tanggal          : Kamis, 25 Oktober 2012
Waktu                    : 07:30 – 09:00
Ruang                    : FH 01
Sifat                       : Take Home Exam
Perihal                    : Jawaban UTS KLB



1. Budaya-budaya yang barbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.
Perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis.
Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya dan mempraktekkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Kebutuhan untuk mempelajari komunikasi lintas budaya ini semakin terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (desa/kota),latar belakang pendidikan, dan sebagainya.
1.1    Alasan mempelajari Komunikasi Lintas Budaya adalah sebagai berikut;
Untuk memerinci alasan dan tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya Litvin (1977) menyebutkan beberapa alasan diantaranya sebagai berikut:
a.    Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan.
b.    Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.
c.    Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.
d.    Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.
e.    Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.
f.    Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.
g.    Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia.
h.    Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.
i.    Pengalaman-pengalaman antar budaya dapat menyenangkan dan menumbuhkan kepribadian.
j.    Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.
k.    Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahkan atau memudahkan.
l.    Situasi-situasi komunikasi antar budaya tidaklah statik dan bukan pula stereotip. Karena itu seorang komunikator tidak dapat dilatih untuk mengatasi situasi. Dalam konteks ini kepekaan, pengetahuan dan keterampilannya bisa membuatnya siap untuk berperan serta dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang efektif dan saling memuaskan.

1.2 Sedangkan mengenai tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya, Litvin (1977) menguraikan bahwa tujuan itu bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk:
a.     Menyadari bias budaya sendiri
b.     Lebih peka secara budaya
c.  Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
d.     Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri
e.     Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
f.     Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
g.     Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya
h.     Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri:asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
i.     Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya.

2. Menjadi Manusia Antar Budaya
Pengertian manusia, budaya dan bahasa
•    Dipandang dari sudut linguistik, manusia tidak lahir bebas. Manusia mewarisi suatu bahasa yang penuh dengan ungkapan-ungkapan pelik, kata-kata kuno dan bahasa yang membosankan.
•    Setiap masyarakat memiliki kebudayaan dan setiap masyarakat yang berkebudayaan berarti memiliki bahasa.
Kosa kata
•    Orang-orang eskimo dapat menggunakan kira-kira 20 kata untuk menyebut wujud-wujud salju yang berlainan. Orang yang berbahasa inggris hany dapat membedakan salju yang lengket, hujan es bercampur salju, dan es.
•    Orang inggris memiliki beberapa kata untuk mengartikan kuda (horse). Binatang ini bisa disebut chessnut (kuda cokelat kemerah-merahan), mare (kuda betina), atau stallion (kuda jantan). Sudah tentu anda dan saya tidak bisa melihat seekor kuda yang ada dalam pikiran orang inggris adalah mare.
Idiomatik
•    masing-masing anggota mempunya makna hanya jika bersama (anggota) yang lain.
•    Misal: frase "kambing hitam" dalam kalimat " Dalam peristiwa itu hansip hanya menjadi kambing hitan".
•    Kadang-kadang idiom merupakan bahasa dan dialek yang khas, yang menandai suatu bangsa, suku, atau kelompok.
•    Idiomatik adalah segala hal yang berhubungan dengan idiom sesuai dengan kekhususan bahasa.
Gramatikal-Sintaktikal
Konsep yang menerangkan bahwa setiap bahasa memiliki tata bahasa dan ilmu tentang sintaksis, ilmu tentang kalimat.
Pengalaman Berbahasa
•    Kata-kata dalam setiap bahasa berkembang sesuai dengan pengalaman berkomunikasi dengan orang atau media lain.
•    Pengalaman berbahasa dari TV atau radio mendorong orang untuk berbahasa yang baik dan benar, tetapi sebaliknya juga mempengaruhi kita untuk menggunakan kata-kata asing yang mungkin tidak proporsional.
Batasan dan peranan manusia antar budaya

Menurut Gudykunst dan Kim
    Manusia antar budaya adalah orang yang telah mencapai tingkat dalam proses antar budaya yang kognisi,  afeksi dan perilakunya tidak terbatas, tetapi terus berkembang melewati parameter-parameter psikologi suatu budaya.
Menurut Adler
    Manusia multibudaya adalah orang yang identitas dan loyalitasnya melewati batas-batas kebangsaan dan komitmennya bertaut dengan suatu pandangan bahwa dunia ini adalah komunitas global.
Menurut Adler
   Identitas manusia multibudaya tidak berlandaskan pada "pemilikan" yang mengisyaratkan memiliki atau dimiliki budaya, tetapi berlandaskan pada kesadaran diri yang mampu bernegosiasi tentang rumusan-rumusan realitas yang baru.

   Peranan manusia antarbudaya dewasa ini untuk mengurangi kesalahpahaman antara orang-orang yang berbeda budaya.
Pendidikan Manusia Antar Budaya
•    Usaha untuk menanggulangi konflik antar budaya adalah dengan pendidikan manusianya.
•    Melalui pendidikan dapat menciptaakan generasi-generasi baru yang tidak terkukung oleh perspektif nasional, rasial, etnik, dan teritorial.
•    Pendidikan bisa formal atau nonformal berupa pelajaran bahasa asing, studi etnik, komunikasi antar budaya adalah bidang-bidang studi yang cukup penting diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi.
•    Pertukaran siswa, mahasiswa, ilmuwan, artis dan olah raga antar bangsa.
•    Media masa sebagai sarana untuk memasyarakatkan nilai universal.
Konflik Antar Bangsa
•    Konflik dan peperangan antar disebabkan karena para pemimpin bangsa yang satu tidak memahami dan menghargai budaya bangsa lain.
•    Konflik yang terjadi dikarenakan sifat entrosentris dan stereotip terhadap bangsa lain misalnya Hitler.
Kesalahpahaman antar budaya
•    Kesalahpahaman yang terjadi antara orang indonesia dengan orang Amerika seperti, orang barat sangat risi dan tidak sopan apabila kita menanyakan Berapa usia kamu?, Apakah anda sudah menikah?, Berapa anak anda??... Begitu pula orang Indonesia tersinggung apabila anak-anak barat memanggil nama depan kita tanpa sebutan Bapak. karena batasan Usia yang jauh.
•    Kesalahpahaman antara bangsa lazimnya dikarenakan stereotip antarbangsa tanpa disadari.

3. Analisis Jurnal Komunikasi Antarbudaya dalam Kehidupan Manusia
Dewi Widowati (Dosen STIKOM Wangsajaya Banten)
Manusia diciptakan oleh Sang Pencipta tidak ada yang  sama. Kenyataan itu membuat manusia harus berpikir  tentang  apa makna dibalik perbedaan tersebut. Bila dunia diciptakan dan diisi dengan manusia-manusia yang sama, yang seragam, baik sifat, karakter, perilaku, maupun nilai-nilai yang dianut, profesi, status dan lain-lain, maka tidak akan ada  riak gelombang kehidupan, tidak ada dinamika kehidupan. Kadang, perbedaan juga membuat suatu hubungan/relasi menjadi saling melengkapi, bahkan terkadang terasa indah.
Berbicara tentang komunikasi antar budaya tidak akan lepas dari membahas tentang dua konsep yang berbeda, tetapi pada akhirnya keduanya saling mendukung, bahkan ada saling ketergantungan (interdependency). Smith (1976) menyatakan bahwa “komunikasi dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan” atau pernyataan Edward T.Hall (1959) yaitu “ komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi”.
Ini berkaitan dengan berbagai perbedaan gagasan, ide, karya yang dibuat,dipelajari oleh manusia yang berada dalam kelompoknya masing-masing. Bila masuk dalam pemaknaan apa itu komunikasi antar budaya, maka dapat diartikan bahwa komunikasi antar budaya itu sendiri sebagai pengalihan informasi dari seseorang yang berkebudayaan tertentu kepada seorang yang berkebudayaan lain.
Bila terjadi perbedaan makna dalam komunikasi antar budaya, dan perbedaan tersebut dapat diterima oleh masing-masing budaya secara apa adanya, maka komunikasi yang terjadi diharapkan dapat efektif. Tetapi, bila budaya lain kita maknai dari kacamata budaya kita maka efek komunikasi justru sebaliknya. Inilah uniknya komunikasi antar budaya, kelihatannya sulit untuk diterapkan, tetapi sebenarnya tidak, asalkan kita mampu dan mau ber-empati terhadap orang lain yang berbeda latarbelakang budayanya dengan kita.
Gudykunst dan Kim (1994) menunjukkan bahwa orang-orang yang kita kenal selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas relasi antar pribadi. Tingkat ketidakpastian adalah keraguan kita akan perilaku dan sikap orang lain, seperti pertanyaan-pertanyaan yang kadang muncul dalam diri kita saat kita sedang berkomunikasi dengan orang lain, apalagi yang berbeda budaya, seperti misalnya : apakah saya terlihat aneh di depan dia? apakah dia nyaman berbicara dengan saya?. Menurut Gudykunst dan Kim, bahwa untuk mengurangi tingkat ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap interaksi, yaitu (1) pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui  simbol verbal maupun non-verbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi); (2) initial contact and imppression, atau tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal tersebut; misalnya anda bertanya pada diri sendiri; apakah saya seperti dia? Apakah dia mengerti saya? Apakah saya rugi waktu kalau berkomunikasi dengan dia?. (3)  closure, mulai membuka diri anda yang semula tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit. Ditambahkannya pula bahwa teori atribusi menganjurkan agar kita harus lebih mengerti perilaku orang lain dengan menyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dia. Pertanyaan yang relevan adalah apa yang mendorong dia berkata, berpikir atau berbuat demikian?. Segala pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat munculnya tingkat ketidakpastian dalam suatu komunikasi antarbudaya. Tetapi, apabila kita dapat memahami dan dapat menjawabnya melalui ucapan dan perilaku yang tepat,maka kesepahaman akan terjadi.
Berkomunikasi dengan orang yang berbeda latarbelakang budaya dengan kita akan memberi suatu nuansa yang unik. Contoh yang cantik dari sebuah komunikasi antar budaya adalah dalam sebuah peristiwa penerbangan dari Denpasar (Bali) menuju Guam, di mana pramugari mengumumkan tata cara penggunaan pelampung penyelamat diri yang disampaikan dalam bahasa Inggris, Jepang, Cina dan Tagalog secara bergantian. Ketika ditanya kepada pramugarinya, mengapa tidak cukup hanya dengan menggunakan bahasa Inggris saja, ternyata maskapai penerbangan itu mempunyai semboyan “Senyumlah kepada dunia, maka dunia akan tersenyum kepada Anda. Oleh  karena itu pendekatan yang kami gunakan adalah menyapa para penumpang dengan bahasa mereka. Kami belajar dari pengalaman, kami selalu mengangkut mayoritas penumpang orang Jepang, Cina, dan Filipina. Karena itu kami menyapa dengan bahasa mereka, dan termasuk bagaimana penumpang merasa sedang menumpang sebuah pesawat miliknya sendiri”.(Liliweri, 2003)



DAFTAR REFERENSI

    Budisantoso, 2005, Sistem Komunikasi Indonesia Baru, Badan Informasi dan Komunikasi Nasional (BIKN)
    Effendy, Onong Uchjana, 2007, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
    Keesing, Roger M., 1981, Antropologi Budaya Suatu Perspektif Kontemporer, Jakarta: Erlangga
    Mulyana, Deddy & Rakhmat, J., 1993, Komunikasi Antar Budaya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROPOSAL PELATIHAN

            PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA       ” PELATIHAN PEMBUATAN BLOG PENDIDIKAN BAGI GURU-GURU DI KOTA BANGKALA...